Pages

Minggu, 29 Januari 2012

AGAR KULIAH SELALU MENGASYIKKAN





Selamat Datang Mahasiswa/i Baru. Begitulah salah satu bentuk ucapan yang biasanya ada dalam spanduk depan sebuah kampus di awal tahun ajaran baru. Sebuah bentuk ungkapan bahwa kamu telah masuk ke dunia baru dalam jalan hidupmu. Kehidupan yang akan sangat jauh berbeda dengan kamu yang baru menamatkan pendidikan menengah atas di sekolahmu.



Pastinya kamu wajib bersyukur, karena memiliki kesempatan untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Anugerah yang bisa jadi tidak semua anak remaja di Indonesia dapat menikmatinya. Maklum, tingkat kemiskinan di negara kita tercinta ini kan masih cukup tinggi. Kasus putus sekolah masih sering terjadi. Alhasil, kamu termasuk orang-orang yang beruntung.





Zaman sekarang ini kamu lebih mudah memilih tempat kuliah. Tidak sulit sekarang cari kampus karena sudah hampir ada di tiap kota, terutama di pulau Jawa. Ada universitas, institut, sekolah tinggi, politeknik, dan akademi. Selintas nama-nama tersebut tidak berbeda, namun masing-masing memiliki perbedaan. Universitas itu lebih umum, bidang studi yang menjadi pilihan banyak sekali. Asal katanya saja dari universe yang artinya umum atau semua bidang. Makanya di universitas itu berbagai rumpun ilmu seperti sains, sosial, teknik, sastra, humaniora, pendidikan, dan seterusnya itu ada disana. Memang begitu, sesuai dengan salah satu syarat berdirinya universitas harus memiliki minimal lima fakultas.

Sedangkan institut, sekolah tinggi, politeknik, dan akademi fokus ke satu atau beberapa bidang studi, seperti IKIP yang hanya fokus di bidang studi pendidikan, STAN di bidang administrasi dan perpajakan, PNJ yang hanya membuka jurusan teknik, dan seterusnya. Untuk lebih jelasnya nanti kamu dapat bertanya ke dosen atau kakak kelas saat acara orientasi mahasiswa baru.



Orang tua dan teman-teman pasti bangga dengan kamu yang sudah kuliah. Secara status sosial di masyarakat pun, kamu sudah mencapai derajat tertinggi dalam dunia pendidikan. Tidak ada lagi jenjang pendidikan setelah itu. Oleh karena itu, label mahasiswa adalah derajat tertinggi bagi anak-anak dalam masa belajar seperti kamu.

Agar masa kuliah kamu dapat jalani dengan baik dan selalu mengasyikkan, kami ingin berbagi cerita dan pengalaman yang mudah-mudahan bermanfaat bagi kamu. Bukan maksud untuk menggurui atau merasa lebih pintar, namun kebetulan kami ditakdirkan lahir lebih dulu dari kamu dan menikmati masa kuliah sebelum kamu. Perlu diingat juga ya, pengalaman tiap orang pasti berbeda, apa yang kami tulis hanya akan memberikan gambaran yang umumnya terjadi di dunia mahasiswa.



Pertama, semoga jurusan atau bidang studi yang kamu ambil sesuai dengan minat dan bakatmu. Belajar di perkuliahan itu diarahakan untuk menjadi profesional di bidang tertentu, berbeda sekali dengan masa sekolah yang semua pelajaran kamu dapatkan. Diharapkan setelah tamat nanti, kamu menjadi ahli di bidang yang kamu geluti di bangku kuliah.



Kedua, bila ternyata ada rasa terpaksa mengambil bidang studi yang kurang kamu sukai atau istilahnya “kecelakaan” dalam mendapatkan jurusan, hal itu bukanlah masalah. Bisa jadi, kamu pilih jurusan A di sebuah kampus, ternyata lulus di jurusan B. Ada dua cara mensiasatinya, pertama, kamu ikuti perkuliahan selama setahun, lalu tahun ajaran berikutnya ikut kembali tes lagi memilih jurusan yang kamu minati, bila lolos kamu pindah jurusan atau pindah kampus juga dan kemungkinan ada beberapa mata kuliah yang bisa kamu konversi ke jurusan yang baru sehingga tidak terlalu banyak mengulang dan menghabiskan waktu. Kedua, belajarlah mencintai jurusan yang kamu dapatkan. Memang terasa berat mempelajari bidang studi yang kamu kurang berminat. Ada sebuah ungkapan kalau cinta itu tidak selamanya datang pada pandangan pertama, ia dapat tumbuh dengan adanya interaksi yang lama. Nah, coba deh tekuni bidang studi tersebut dengan giat, lama-lama akan tumbuh rasa suka dan kamu akan jadi ahli di bidang ilmu yang awalnya kamu tidak suka sama sekali.



Ketiga, tempat baru akan mendapatkan teman yang baru pula. Sejatinya kamu harus pandai bergaul dan memiliki prinsip “seribu teman masih kurang, satu musuh kebanyakan”. Dengan memiliki banyak teman, kamu akan merasa lebih nyaman belajar. Apalagi bagi kamu yang merantau, perlu banyak teman untuk saling berbagi dan tolong menolong. Ingat juga ya sebuah ungkapan “shadiquka man abka ka laa man adhakaka” yang maksudnya, punya teman harus yang dapat menuntun kamu ke arah yang lebih baik, ia yang akan selalu memotivasi, menolong dalam kebaikan, bahkan ia yang menasehati dan mengingatkan saat kamu sedang lalai, malas, atau bahkan cenderung melakukan perbuatan buruk. Jangan mau berteman dekat dengan orang yang lebih suka mengajak kamu hidup hedonis, over consumptive, dan lalai dengan kewajiban kamu terhadap diri sendiri, keluarga, dan agama. Prinsipnya, semua orang boleh menjadi teman kita, namun untuk teman dekat harus ada skala prioritas siapa yang dapat kita percaya untuk itu.



Keempat, masa belajar kadang sering melelahkan dan menjenuhkan. Apalagi jadual perkuliahan tidak selalu teratur, ditambah dengan tugas dari dosen yang tidak nanggung-nanggung. Semua menjadi beban di kepala kamu. Untuk mensiasati rasa jenuh, kamu dapat memilih aktivitas di luar perkuliahan yang sederhana dan tidak terikat, seperti olahraga, wisata alam, jalan-jalan, nonton, main game, ikut pengajian, dst. Dapat juga kamu aktif di organisasi yang terikat dan bersifat rutin, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa, Unit Kegiatan Mahasiswa bidang seni, bahasa, pecinta alam, dst, dan organisasi eksta kampus seperti HMI, PMII, KAMMI, GMNI, dsb.



Pertimbangkan dengan baik kalau kamu mau mengikuti aktivitas di luar perkuliahan. Tidak semua orang sama, ada yang merasa nyaman kuliah dengan aktif di kegiatan ekstra, dan ada pula yang malah terganggu dan cenderung kuliahnya molor karena tidak pandai mengatur diri. Ibaratnya masuk kampus adalah seperti kamu masuk sebuah pasar swalayan besar. Tujuan kamu adalah membeli beras sebagai bahan pangan yang primer, baik juga kalau kamu dapat daging ayam, sayuran, buah-buahan, dan kerupuk sebagai hal sekunder. Namun, jangan sampai sasaran utama tidak tercapai. Alangkah baiknya, baik yang primer dan sekunder bahkan tersier kamu dapatkan. Akan tetapi, ingat skala prioritas dan tujuan utama.



Pengalaman kami kuliah sambil memiliki aktivitas lain itu sungguh menyenangkan. Sehingga delapan semester seperti sangat sebentar. Ceritanya, kami ingin mencari tempat tinggal yang dekat dengan kampus saat mulai kuliah tahun 2007. Kebetulan ada Ma’had Aly bagi mahasiswa/i yang menyediakan asrama dan fasilitas belajar secara gratis. Dengan azam untuk masuk disana melalui tahapan tes tulis dan lisan yang cukup sulit dan akhirnya diterima. Lumayan dapat mengirit tidak perlu bayar sewa kos. Apalagi ditambah dengan pelajaran di ma’had yang menambah ilmu dan wawasan. Pokoknya plus-plus. Selama kuliah plus belajar di ma’had ternyata mengasyikkan. Lingkungan yang nyaman dan aman dilengkapi dengan budaya dan nilai-nilai pesantren, sehingga menjaga diri istiqamah berusaha menjadi orang baik.



Aktivitas ekstra di kampus juga sungguh mengasyikkan. Saat semester satu, kami memilih aktif di organisasi mahasiswa Islam pertama di Indonesia. Dengan aktif disana, dapat membuka cakrawala berfikir lebih luas. Suasana latihan kader dan pengembangan diri sesudahnya dengan diskusi dan berbagai kegiatan membuat kami tidak hanya akan cerdas secara akademis namun juga secara sosial. Interaksi dengan banyak orang akan membuat kita memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik. Pastinya kita akan kembali ke masyarakat setelah tamat kuliah, maka perlu teknik dan latihan agar mampu bermasyarakat dengan baik nanti.



Beraktivitas di organisasi intra kampus lebih mengasyikkan. Waktu semester satu kami pernah ikut pelatihan anggota baru di unit kegiatan mahasiswa yang bergerak di bidang bahasa. Kemudian aktif selama setahun, namun tanggung jawab di BEM membuat kami tidak aktif lagi. Kenangan indah waktu semester tiga ikut bursa pemilihan calon wakil ketua BEM di jurusan. Tidak menyangka akhirnya terpilih secara langsung oleh kawan-kawan. Sejak itulah jadi sering izin tidak masuk kelas dikarenakan kegiatan diluar perkuliahan. Kami pernah jadi utusan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional di Jakarta, studi banding ke UNPAD dan UNPAR, rapat senat tiap tahun ke Vila di Anyer dan Carita, dan paling berkesan terlibat jadi koordiantor panitia Konferensi Islam Internasional di kampus pada 18-20 Desember 2009 yang menghadirkan pembicara dari beberapa negara seperti Arab Saudi, Yordania, India, Tunisia, Malaysia, Iran, Bangladesh, Belanda, dan Indonesia. ada kesan tersendiri menjadi guide para pembicara, sehingga dapat latihan berbicara Arab dan Inggris langsung dengan native.



Kalau sudah asyik aktif di kampus pasti ketagihan. Buktinya, tahun 2010 kami ikutan pemilihan Ketua BEM Jurusan dan terpilih. Waktu itu kami sudah semester enam. Sudah agak terbiasa mengatur waktu saat itu. Pokoknya cari cara bagaimana beraktivitas organiasasi namun kuliah lancar. Dan kami rasakan lancar dibuktikan dengan semua mata kuliah lulus dengan nilai yang baik sehingga tidak butuh semester tambahan untuk remedial.



Kelima, bila kamu merasa tidak cocok beraktivitas di organisasi dikarenakan sulit mengatur waktu atau kondisi keuangan yang tidak mendukung, kamu dapat cari aktivitas yang menghasilkan uang. Tergantung tujuan kamu, ada yang sekedar menambah uang saku atau untuk biaya hidup bila kamu memang tidak lagi dibiayai orang tua. Banyak pilihan untuk cari kegiatan seperti mengajar privat ke rumah-rumah, pelayan warnet dan foto copy, ikut penelitian lembaga atau dosen, berjualan pulsa atau makanan, dsb.



Pengalaman kami mencari penghasilan sedikit-dikitnya sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat insidentil. Kita butuh beli buku, pulsa, foto copy paper, ngenet untuk mencari data, bahkan untuk membeli barang-barang seperti tas, baju, dan nonton film saat suntuk di akhir pekan. Kalau punya penghasilan walau alakadarnya, kami tidak akan pusing selalu meminta uang ke orang tua karena sudah budjet bulanan sudah tetap dan sulit dinaikkan.



Kami sendiri sejak semester tiga gabung sebagai interviewer dan surveyor di Litbang Harian Kompas di Jakarta. Cukup mengasyikkan bekerja di sebuah lembaga penelitian profesional di perusahaan koran milik Jacob Oetama. Alhamdulillah di tahun ketiga kami bekerja sampingan disana, sekarang kami sudah menjadi Asisten Peneliti. Selain di Kompas, kami sering terlibat penelitian sosial kemasyarakatan yang diselenggarakan LSI (Lembaga Survei Indonesia), bahkan tiga kali ikut quick count pemilu dan pemilukada di Jakarta, Bekasi, Tangerang, dan Depok. Pernah juga kami ikut penelitian SETARA Institut, sebuah LSM di Jakarta selama dua pekan di Tangerang. Pokoknya kegiatan penelitian sangat mengasyikkan karena kita mengaplikasaikan ilmu yang kita dapatkan, dan sejatinya mahasiswa wajib mampu melakukan sebuah penelitian individu maupun kelompok.



Bagi kamu yang lulusan pesantren, banyak kegiatan yang menghasilkan uang dapat dilakukan. Mengajar baca al-Quran secara privat maupun di TPA, aktif di lembaga atau yayasan Islam, dsb. Kami merasakan selama jadi mahasiswa di tiap Ramadan mengisi kegiatan pesantren kilat di SLTPN di Depok. Lumayan kan untuk uang saku lebaran plus diniatkan mengamalkan ilmu waktu di pesantren. Belum lagi kalau di minta ceramah, wajib diterima yang penting niatnya dakwah, entah nanti mendapatkan amplop ya tidak usah diterima (amplopnya tapi diambil isinya, hehe). Selanjutnya, keuntungan kuliah di kota, saat Ramadan lembaga amil zakat nasional buka kesempatan magang buat mahasiswa. Alhamdulillah, kami pernah satu kali dan bersyukur dapat pengalaman tersebut.



Secara pribadi, kami merasa dengan beraktivitas selama kuliah justru menjadikan kami belajar mengatur waktu dengan baik. Aktivitas ekstra dan intra kampus tidak menghalangi kita untuk sukses dalam mencapai prestasi di perkuliahan. Sebagaimana kami rasakan di sela aktivitas organisasi, kami pernah terpilih untuk mewakili fakultas dalam lomba debat nasional di UNPAR tahun 2010. Di akhir masa kuliah pun, kami meraih prestasi wisudawan terbaik di tingkat program studi dan fakultas dengan IPK 3,96. Dua buah piagam penghargaan dari dekan dan rektor menjadi kado untuk wisuda kami pada tahun ini.



“Bergeraklah, sesungguhnya dengan bergerak kamu akan mendapat keberkahan” demikian kata-kata yang sering kami dengar dari lisan pak kyai waktu mondok di daerah timur pulau Jawa. Begitu pula, kyai yang mengasuh kami di ma’had aly mengatakan: “Hidup adalah bergerak dan mati adalah diam, siapa yang tidak bergerak ia mati sebelum ajal”.

Begitulah menjadi mahasiswa. Banyak kegiatan bermanfaat yang dapat kita lakukan, baik dari segi pengalaman, perluasan jaringan, bahkan secara ekonomi. Kalau sudah seperti itu, kamu sudah terbiasa bekerja dan merasakan sulitnya mandiri secara ekonomi. Alhasil nanti tidak kaget di saat lulus kuliah dan hidup berkeluarga dengan pasangan kamu.



‘Ala kulli hal, tulisan kami ini bukan untuk memprovokasi kamu untuk jadi aktivis mahasiswa. Kamu yang lebih tahu akan diri dan kemampuanmu. Oleh karena itu, saat melangkah kaki di kampus, kamu harus punya visi. Apa yang kamu lakukan saat ini, itulah masa depanmu. Kamu menjadi “apa” esok ditentukan oleh langkahmu hari ini. Be the best dan jangan lupa motto ”man jadda wajada”.





Tulisan ini kami persembahkan untuk kawan-kawan semasa di pesantren Condong yang mulai kuliah tahu ini, terutama untuk Yuni di UGM, Dinni di UNDIP, Witri di UIN Jakarta, Ridwan di UIN Malang, Ana Kurnia di UPI, Rabiatul di STFB, Ahmad Fauzi di STHG, Wili di UNIKOM, dan Ade Ai Rizqi, Ica, Tia, Santi, Oha, Lutfi, dan semua laskar pengabdian yang kuliah di STPT. Semoga kesuksesan menyertai perjalanan hidup kalian. (Hidayatulloh)

1 komentar:

  1. Tulisan yang memberikan motifasi dan pengalaman yg baik bang,,,

    bang kalo boleh saran kata ganti orang "Kami", ganti dengan "Saya" atau "aku", biar saya sebagai pembaca bisa merasakan pengalaman abang sebagai bentuk motifasi dan pengatahuan ,,,,makasih

    mudah2an bermanfaat buat saya ,,,,amin

    BalasHapus